Wednesday, May 24, 2006

when our heart rules our mind


see what I've paint.....
ha..ha..ha another boring artwork,
done by my hand.

12..13..14 canvas nothing ajee gitu...
sama semua...
satu yang bagus kata sahabatku Peong.

he is being fair..
I knew it.

will I be?
at least one..
one person..
that able...
to rules my own mind.

240506-transisi 03

Wednesday, May 17, 2006

TRAGEDI TIAP HARI (QUIET RIOT)

Cerita dibuka di sebuah ruangan tamu sebuah rumah biasa ajah....
Mohnyi dan Eva berselisih seperti biasa, dari pertama mereka berumah tangga.

M : Oke that's it gua bosen juga sebel ama Eva

E : Okee..Eva juga bosen sama kamu, ceci..ceci..ceci !! (baca;benci)

SFX : Plak !! (suara keplakan di kepala)

M : Aaww !!!

SFX : Tuuiiing..!!! (efek tak terdengar kepala ditoyor)

E : Iiihhh..!!

SFX : Bletak !! (suara kepala dijitak pas dijidad)

M : Aawwwwh !!!

SFX : Plak !! Tuiing !! Smack !! Pakkk!! Tuuiiing !! (suara saling serang)

M : Mohnyi bosen Mohnyi mau pergi !!!

E : Okkeeh sana pergi !!

M : Mohnyi mau balik ke pantai !@#!@#!

E : Okkehh !@#!@..

M : Mohnyi pergi Eva kemana?

E : Ikut Mohnyi !!

M : Mohnyi bosen sama Eva !!

E : Eva ceci..sececi..cecinya ceci !!@#@!! (baca;benci)

M : Mohnyi pergi !!

E : Eva ikut Mohnyi!!!

M : Mohnyi benci sama Eva!!

E : Eva juga!!

M : Mohnyi pergiiii !!@@#@#!#

E : Eva ikut Mohnyiiiii !!!!@#@!@!

SFX : Plaaaakkk !!! (suara keplakan dikapala aga keras)

M : .........

Wednesday, May 10, 2006

Aku, Yoga dan Tang



Orang gila!!
Jackie Chan gadungan!@#@#!**
Tang namanya,
Hi dude..!! is his best word.
Agak gelo,
orang dia bakar,
di shoot,
loncat dari lantai 35 meter,
ah geloo!!
I can do it dude, katanya.
2003 Starmild stuntman KL.
Tai banget bener nih??
Yoga diem seperti biasa,
Yoga merinding, saat stunt mau loncat,
all set up...camera rolling.
Yog...kataku, lo liat atas deh.
Yoga menengadah.
Dilihatnya puluhan bahkan hampir seratus burung gagak
terbang berkeliling lokasi shooting.
tepat diatas kita semua, koak..koak..koak...
Itu tanda kematian kataku berbisik.
Yoga:..hiiiiiiiiiiii
"Action!!"
Tang gila teriak....
Stuntman loncat, dengan tubuh terbakar,
dan.....



plok..plok..plok!!!!
Stuntman tetap hidup.
Kudengar Yoga teriak Huuaaahhhhhhhh!!!!
kesel kayaknya dia.
Aku juga .....takut.
Tang datang,
One shot and done ..dude!
Aku tanya seseorang crew,
hebat sudah berapa kali dia melakukan ini?
Baru sekarang katanya.
#@!!@#@!@#**&@*!
Tang, Adrian Tang...
gelo!!
SELAMAT DATANG BAHAYA...

Men above



Kesian kalo kita jadi mereka,
bagai tunas yang sia-sia.
Kesian kalo jadi mereka,
dimaki para syuhada kemerdekaan.
Kesian....
terpaksa...
penerus sebuah gagasan faham yang gagal,
kesian...
Mereka jantung dari negara.
Sebagian dari mereka mencoba merubahnya,
sebagian hanya menjadi penerus tonggak groak.
Mereka bisa berubah, pasti.
Sampai seseorang atau kaum melabrak,
revolusi, perubahan, pemberantasan,...
atau,...
penyelesaian akhir;pemusnahan sistematis.
Demi sebuah bendera baru, dengan kibar tanpa henti...
mengawal benih-benih baru.
Negeriku,...Pertiwi.

Friday, April 28, 2006

perfect days


my world is changing...
quietly...
time were so mighty...
we're older now..
path reveals...
roads are turning..
days are numbers
.....
these days were the perfect days..
to begin.
oh my old world keep on changing,
we'll be rolling.
future smilling...
....and will you?
will you come with me?

Tuesday, April 25, 2006

Awaken





Tuhan jangan jauhkan aku dari Mu,
Tuhan jagalah aku,
Tuhan bilaslah aku selalu dengan cahaya Mu,
Tuhan jadikanlah aku manusia yang berguna untuk sesamaku,
Tuhan dinginkanlah hatiku, dan jauhkan hatiku dari dengki, dan fitnah,
Tuhan jika aku terpaksa berperang, pastikanlah aku berperang untuk Mu, dan ridho Mu,
Tuhan jika aku harus berkorban bagi sesamaku, pastikan hatiku ridho bukan riya,
Tuhan bila seseorang tidak menerima niat baikku, pastikan hatiku hanya untuk Mu,
Tuhan jika aku berlebihan dalam hidupku, maafkan aku,
Tuhan bila hidupku sudah tidak lagi berguna, ambilah aku,
karena kita manusia sangatlah rapuh, dan sampaikanlah salamku pada Rosulku.


250406

Thursday, April 13, 2006

In memoriam Yuki Daki

Sebutlah ini tahun 1983-1982.
Sebuah kota sejuk di Jawa Barat. Seorang anak berjalan semangat kesekolah, anak SMP, dengan tanda Salib didadanya.
Ia pelajar sekolah Katolik di Kota sejuk itu. Dipersimpangan jalan seperti biasa ia bertemu sahabat sebangkunya,
namanya Yuki.
Kaca mata tebal, sepatu merk Lotto yang jelas terlalu besar dikakinya, ia menyapa temannya dengan antusias.
Return of the Jedi....Return of the Jedi, ia ulangi lagi kalimat itu.

Yuki: Aku sudah dapet video itu!!
Anak: Jadi kapan kita boleh nonton dirumahmu?

Yuki: ..Ooooh sori yaaa!!

Yuki seperti bisa bertingkah sok dan seolah dialah pencipta Star Wars.
Dia memang anak kesayangan nenek, tinggal dengan nenek,
pernak-pernik dirumah besar neneknya selalu menjadi hiburan, teman-temannya.
Terutama kiriman-kiriman mainan dari bapaknya di Jakarta.
Perbincangan di pagi hari antara Yuki dan teman sebangkunya, seperti hari-hari sebelumnya.

Ada kelainan pada Yuki, teman sebangkunya memperhatikan hari demi hari. Ia seperti tertinggal oleh waktu. Terbenam dalam lamunan, saat teman-teman lainnya mulai beranjak dewasa, berpencar mencari masa depan.
Ia hanya terkenal akan kebiasaan jeleknya, setiap pagi tidak mau mandi.
Hingga julukan Yuki Daki menjadi namanya hingga dewasa.
Tiba-tiba saja teman sebangkunya harus pergi dan tak pernah bertemu lagi dengannya.
Teman sebangku sekolahnya di SMP itu dijemput pulang orang tuanya dan pindah entah kemana.

Ternyata sang sahabat juga terlihat oleh Yuki sebagai anak yang rapuh. Kerapuhan yang terbungkus dendam,
..sangat dalam. Sang sahabat tidaklah memiliki ekspresi seperti Yuki.
Ia menabung dendam untuk masa depannya.
Ya mereka berdua memang anak-anak yang cacat.

Sebelum kepergian sahabatnya Yuki berujar, akankah kita main lagi nanti?
Baca komik lagi, liat-liat majalah Hai punyaku, yang ada gambar pesawat-pesawat tempur?
Seperti bintang-bintang yang selalu kita kagumi? Naek ke loteng nenekku?
Teman sebangkunya kurang bisa mengerti akan apa yang Yuki utarakan saat itu.
Sang sahabat sebangku terlarut dalam guncangan trauma kerapuhan nasibnya.
Sahabatnya itu hanya berfikir tanpa arti seraya menyodorkan tangan, sampai kita bertemu nanti ya...
Mata Yuki berair, sahabatnya melangkah meninggalkannya, ia melambaikan tangan.
Yuki bergumam dalam hati,..kenapa tidak kau keluarkan tangismu sahabatku?

Tahun berganti setiap anak dari SMP Katolik menempuh takdirnya masing-masing.
Sebagian besar ke Jakarta, sebagian besar lainnya ke Bandung,...selamat datang masa remaja.
Waktu tak pernah berhenti, tidak juga kedua sahabat karib ini dipertemukan nasib.
Namun jauh dalam kalbu mereka berdua ikatan itu selalu ada.
Ikatan yang selalu menjadi sebuah ingatan, akan sejuknya kota itu dipagi hari, masa kanak-kanak yang rumit,
serta satu pertanyaan yang sama diantara keduanya,...
kenapa kita tidak pernah tinggal dengan orang tua kandung kita?

Kabar demi kabar sampai pada sahabat Yuki di kota Bandung.
Sebagian besar kabar tentang Yuki adalah cerita-cerita seram akan kebiasaan Yuki dengan narkotik,
serta makin menurunnya kesehatan Yuki. Dia memang selalu sakit,..rapuh,..dan selalu sendiri.
pernah ada kabar yang membuat sahabatnya terduduk layu. 1990 Yuki masuk ke rumah sakit lagi, lagi? Kata sahabatnya, saat seseorang menyampaikan berita itu.

1991 Yuki survive, sahabatnya bergegas pulang ke kota itu. Ia mencari Yuki, kerumah neneknya. Saat itu liburan lebaran di tahun itu. Sahabat Yuki tidak bisa menemuinya,
hingga saat sahabatnya melihat Yuki dipinggir jalan dengan 3 orang temannya.
Yuki terperangah saat sang sahabat karibnya tiba-tiba saja berada didepannya berdiri, tumbuh, remaja,
dan dengan mata tajam menatap,..menghunjam ke dalam kalbu Yuki.

Seribu juta pertanyaan dan rasa rindu terbungkus menjadi amarah yang dalam.
Apa yang telah terjadi? Apa yang telah engkau lalui?
Pandangan sangar sang sahabat membakar Yuki.

Yuki terdiam bagai patung. Badannya kurus, mukanya pucat,
getar terasa hatinya melihat sang sahabat yang ia kenal telah berubah,
menjadi remaja penuh ambisi dan terlihat oleh Yuki bahwa tanpa kata-katapun sang sahabat
sedang mengejar cita-citanya, walau dengan berdarah-darah.

Yuki tetap diam,..begitu juga sang sahabat.
Sampai Yuki mengangkat kaos dekilnya,..sang sahabat terbelalak!!
Ia melihat bekas jahitan operasi sepanjang hampir 30 centimeter.

Yuki: Aku masih hidup, rumah sakit itu tidak mau menerima jiwaku, mereka memotong sebagian dari tubuh dalamku,
demi untukku hidup kembali.

Sahabatnya shock,..ia mundur dan meninggalkan Yuki.
Dia tak akan pernah berhenti.
Dia sedang menanti, gumamnya dalam hati.
Sahabatnya kembali melihat Yuki melabaikan tangan.
Kali ini sang sahabat yang berlinang air mata.

Kuasa sang waktu memang tak terjamah. 1994, sang sahabat ke Jakarta.
Berhimpitan, belajar, terlempar, untuk kemudian kembali berdiri, untuk satu kata;mandiri!

1995, disaat sang sahabat lelah, keringat ambisinya sampai pada titik terendah.
Ia berjalan di suatu malam, saat itu ia mendapat kabar bahwa semua teman SMP Katoliknya itu berkumpul kembali.
Mereka bersatu di satu rumah di Jakarta, untuk kepentingan yang sama;mandiri.

Kemudian kabar yang sampai adalah, seseorang telah merelakan rumahnya di Jakarta
untuk dijadikan fasilitas bagi siapa saja yang memerlukan.
Ini pasti dia gumam sang sahabat, yang ternyata baru saja dipecat dari kantornya.
Ini pasti dia,...pasti! Sahabatnya kenal betul, dari sekian banyak teman masa kecilnya,
hanya satu yang selalu mau berkorban,..Yuki Daki.
Manusia yang selalu kesepian, seperti dirinya.

Mereka berpelukan ditahun 1995. Disaksikan seluruh teman masa kecil mereka, dirumah Yuki di Jakarta malam itu.
Saling mengejek, dan membuka aib-aib lama, saat mereka semua belum akil balig.

Where have you been man? Katanya sok dan ringan pada sang sahabat. Malam itu malam yang berat untuk sang sahabat. Yuki mengajaknya melihat langit dan bintang, kebiasaan mereka waktu kecil.
Mereka naik keatap rumah Yuki. Waktu menunjukan jam 1 malam, umur mereka saat itu 25 tahun.
Yuki membawa sebotol minuman, ia perlihatkan pada sang sahabatnya,
yang tanpa ekspresi menatap Yuki seakan berkata dalam hati, "life is so full of shit, let us just die young or fall forever".
Sudahlah kata Yuki, kita tak akan pernah menjadi apa yang kita cita-citakan,...perjalanan ini terlalu berat kawan.
Sahabatnya terus terdiam. Mereka mulai minum berdua, Yuki mendominasi malam itu, ia terus bicara.
Terdengar lagu Hey You dari Pink Flyod, band favorit Yuki. Ia mengutip sebaris syair, "no more walls to high, as you can see.
No matter have we tried we could not break free".
Malam itu menjadi malam perpisahan sang sahabat dan Yuki.
Seminggu setelah itu Yuki pergi. Ia telah menemukan jalannya.
Pulang katanya. Ia pergi saat sang sahabat terus bergerak, walau tak pasti.
Selamat jalan Yuki Daki.....
Jangan pernah kau lupakan, kita pernah menorehkan nama kita berdua di bangku SMP Katolik itu.
Oki Yuki....


Wednesday, March 22, 2006

Expats and the Inlanders





Bukannya sok Nasionalis.
Bukannya sok protes, tapi emang gua pikir dah aneh nih sistem.
Aneh aja, kok bisa gitu? Hari gini masih ada aja perbedaan.
Kok negeri ini kayak lego yah? Maenan yang bisa diacak kadut saenak e dewe!
Kayak Rafles the restless warrior, diadunya anak-anak bangsa! Kampret!@#$!
Gua liat Inlanders dibidang ini, merangkak...survives, berpegangan..tumbang satu sama lain.
Bermotoran, dengan nafas karbon...berkeliling; demi anak katanya!
Tiada lagi idealisme konsep atau pariwara dalam step sekarang ini.
Yang penting survive katanya! Lebih baik typus sekalian daripada anak gue bilang;
"kok bapa gak punya uang sih?",
kata seorang jebolan yang rontok dari McCann.
Saat bercakap, tak lagi kudengar nada yang santai....
semua marah, bicara keras, putus asa? Mungkin? Pasti!
Mereka yang datang sebagai Expat, seolah lupa.
Lupa bahwa kita bukan dispossable heroes, kurang suka ganti!
Tawar sampe titik terendah! Gak suka silahkan pergi!
Bersabarlah kawan....
Sebagaimana janji Allah, setiap yang bernyawa pasti diberNya makan.